Jenis Hama Pada Tanaman Yang Bisa Menyerang Saat Budidaya

matador insektisida, harga insektisida matador, matador obat hama, pestisida matador, Belanja Tani

Jual Harga Matador 250 Ml Murah Bisa Menjaga Tanaman Dari Hama | Belanja Tani

Beberapa jenis serangan hama berbahaya pada tanaman budidaya, dapat menghambat fase pertumbuhan tanaman tersebut.

Dengan masa pertumbuhan tanaman budidaya yang terganggu, dapat berdampak pada produktivitas hasil panen yang menurun drastis serta kualitasnya akan buruk.

Oleh sebab itu, petani perlu memperhatikan adanya hama berbahaya yang menyerang ke tanaman, agar bisa dengan segera memusnahkannya.

Jika serangan hama  pada tanaman bisa segera petani atasi, tanaman akan aman dari hama berbahaya, sehingga pertumbuhannya bisa berjalan lebih optimal.

Akan tetapi, sebelum petani menumpas hama yang menyerang ke tanaman, jenis hama pada tanaman tersebut perlu untuk petani ketahui terlebih dahulu.

Pada bawah ini adalah beraneka jenis hama pada tanaman budidaya, yang dapat menyerang saat budidaya serta dapat menghambat masa pertumbuhannya.

Ulat Grayak

Ulat grayak atau Spodoptera Litura adalah suatu hama yang sering menyerang tanaman pertanian pada berbagai negara, termasuk Indonesia.

Hama ini merupakan salah satu spesies dari famili Noctuidae dan terkenal sebagai hama polifag, yang berarti dapat menyerang berbagai jenis tanaman.

Siklus hidup hama ulat grayak berawal dari hama betina yang akan meletakkan telur pada permukaan daun dalam kelompok kecil. Telur ini bisa menetas dalam jangka waktu sekitar 3 – 5 hari.

Setelah menetas, larva atau ulat muda akan mulai memakan daun inangnya. Mereka mengalami beberapa instar (tahap larva) sebelum mencapai kematangan.

Tahap ini bisa berlangsung sekitar 2 – 3 minggu tergantung kondisi lingkungan seperti suhu dan ketersediaan makanan.

Setelah tahap larva, ulat akan memasuki tahap kepompong atau pupa pada dalam tanah. Tahap ini biasanya berlangsung sekitar 7 – 10 hari.

Ngengat dewasa akan muncul setelah tahap larva dan siap untuk kawin dan memulai siklus hidup baru.

Ulat grayak terkenal sangat merusak karena mereka memakan daun tanaman secara agresif, menyebabkan penurunan fotosintesis dan pertumbuhan tanaman.

Tanaman yang terserang oleh ulat grayak antara lain adalah jagung, padi, kedelai, tomat, kubis, dan berbagai tanaman hortikultura lainnya.

Serangan ulat ini dapat menyebabkan kurangnya area daun yang berfotosintesis, sehingga, produktivitas tanaman akan menurun drastis.

Untuk mengendalikan ulat grayak, petani bisa menggunakan musuh alami hama ini, memakai varietas tanaman yang tahan hama, merotasi tanaman secara rutin.

Petani juga bisa mengaplikasikan insektisida untuk mengatasi hama ulat grayak, dengan dosis dan cara pemakaian yang tepat.

Wereng

Wereng, khususnya wereng coklat (Nilaparvata Lugens) dan wereng hijau (Nephotettix Virescens), adalah serangga yang sering menjadi masalah serius pada tanaman padi

Hama wereng menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan dari batang dan daun, serta menjadi vektor untuk berbagai penyakit tanaman.

Siklus hidup hama ini bermula saat hama wereng betina meletakkan telur pada bagian bawah daun atau batang. Telur tersebut akan menetas dalam waktu 5 – 10 hari.

Jika sudah menetas, nimfa akan melalui beberapa instar (tahapan perkembangan) sebelum menjadi dewasa.

Pada tahap ini, nimfa sudah mulai menghisap cairan dari tanaman inang. Tahap nimfa berlangsung sekitar 2 – 3 minggu.

Wereng dewasa juga menghisap cairan dari tanaman inang dan dapat hidup selama beberapa minggu hingga beberapa bulan tergantung pada kondisi lingkungan.

Dampak serangan hama ini adalah, wereng akan menghisap cairan dari dalam tanaman, yang mengakibatkan daun menguning, turunnya vigor tanaman.

Serangan berat dari wereng coklat dapat menyebabkan fenomena yang terkenal sebagai hopperburn, di mana tanaman padi menguning, mengering, dan akhirnya mati.

Wereng hijau juga bisa menjadi vektor untuk berbagai penyakit virus pada padi, seperti virus tungro yang sangat merusak.

Untuk mengendalikan hama wereng, petani bisa memakai varietas tanaman yang tahan hama, mengatur irigasi dan pemupukan dengan tepat.

Memanfaatkan musuh alami hama ini dan memakai insektisida dengan dosis dan cara pemakaian yang sesuai.

Kutu Daun

Kutu daun atau aphid, adalah salah satu kelompok serangga yang termasuk dalam famili Aphididae. Mereka adalah hama penting pada berbagai jenis tanaman pertanian serta hortikultura.

Hama kutu daun menyerang tanaman dengan cara menghisap cairan dari bagian yang lembut, seperti pucuk, daun, dan tunas muda.

Siklus hidup hama kutu daun adalah, hama ini akan bertelur saat musim dingin dan akan menetas ketika musim semi.

Namun, banyak kutu daun yang berkembang biak melalui partenogenesis (kelahiran tanpa pembuahan), yang memungkinkan menghasilkan keturunan betina secara langsung tanpa membutuhkan pejantan.

Setelah menetas atau lahir, nimfa kutu daun akan melalui beberapa instar (tahap pertumbuhan) sebelum menjadi dewasa.

Selama tahap nimfa, mereka sudah mulai menghisap cairan dari tanaman inang.

Kutu daun dewasa dapat berkembang biak dengan sangat cepat, terutama dalam kondisi lingkungan yang menguntungkan.

Dampak serangan kutu daun adalah, akan menghisap cairan dari bagian dalam tanaman, yang mengakibatkan daun menguning dan mengeriting, hingga akhirnya rontok.

Hal tersebut dapat mengganggu proses fotosintesis serta pertumbuhan tanaman.

Kutu daun juga bisa menjadi vektor utama untuk banyak virus tanaman, termasuk virus mosaik, yang menyebabkan kerugian ekonomi signifikan.

Untuk mengendalikan hama kutu daun, petani bisa memakai musuh alami hama ini, menanam varietas tanaman tahan hama.

Aplikasi insektisida juga dapat petani lakukan untuk mengatasi hama kutu daun, dengan dosis dan cara pemakaian yang tepat.

Baca Juga : Bahan Aktif Insektisida Vayego Melindungi Tanaman Dari Hama