Contoh Hama Yang Dapat Menyerang Ke Tanaman Budidaya
Buka Daftar Isi :
Bermacam – macam hama berbahaya yang menyerang ke tanaman budidaya, mampu untuk mengacaukan masa pertumbuhan dari tanaman tersebut.
Dengan fase pertumbuhan tanaman yang menjadi terhambat, bisa berefek ke penurunan hasil panen secara signifikan dan kualitasnya cenderung menjadi lebih jelek.
Maka dari itu, petani harus mengawasi serangan dari hama berbahaya pada tanaman budidaya, supaya dapat mengatasinya dengan segera.
Apabila petani dapat segera mengatasi hama yang menyerang tanaman, kondisi tanaman akan aman dari hama, sehingga dapat tumbuh dengan lancar.
Namun, sebelum petani mengatasi serangan hama pada tanaman budidaya, jenis dari hama tersebut harus petani kenali terlebih dahulu.
Berikut merupakan beberapa contoh hama yang dapat menyerang ke tanaman budidaya dan mampu untuk mengacaukan fase pertumbuhannya.
Belalang
Belalang adalah salah satu ancaman bagi pertanian, terutama karena kemampuan mereka untuk memakan tanaman dalam jumlah besar dan merusak lahan pertanian.
Hama belalang terkenal sebagai serangga yang rakus, dan dalam jumlah besar, mereka dapat menyebabkan kerusakan merugikan bagi tanaman.
Ada beberapa jenis hama ini yang bisa menyerang lahan pertanian, seperti belalang kembara (Locusta Migratoria), belalang padi (Oxya Spp.) serta belalang hijau (Atractomorpha Spp.)
Siklus hidup hama belalang berawal saat telur yang diletakkan pada dalam tanah atau sekitar tanaman, yang akan menetas dalam beberapa minggu.
Setelah menetas, belalang muda atau nimfa mirip dengan belalang dewasa tetapi tanpa sayap. Nimfa ini akan melalui beberapa kali pergantian kulit sebelum menjadi dewasa.
Belalang dewasa memiliki sayap dan mampu terbang, mencari makanan, dan akan berkembang biak lagi.
Kerusakan yang terjadi akibat belalang dapat mengurangi hasil panen secara signifikan, yang menyebabkan kerugian finansial untuk petani.
Dalam kasus serangan yang parah, ketersediaan pangan dapat terancam karena rusaknya tanaman pangan utama.
Serangan belalang juga bisa mengganggu keseimbangan ekosistem lokal dengan menghilangkan vegetasi yang menjadi habitat dan sumber makanan bagi organisme lain.
Untuk mengendalikan serangan hama belalang, petani bisa memakai perangkap dari hama ini, melakukan praktek pertanian yang baik.
Merotasi tanaman dengan rutin, melakukan pengolahan lahan dengan sesuai dan memakai insektisida dengan dosis dan cara aplikasi yang tepat.
Wereng Coklat
Wereng coklat atau Nilaparvata lugens adalah salah satu hama utama yang menyerang tanaman padi, terutama pada sekitar kawasan Asia.
Hama wereng coklat terkenal karena kemampuannya yang cepat dalam berkembang biak dan merusak tanaman, menyebabkan kerugian yang signifikan bagi petani.
Ukuran dari hama wereng coklat lumayan kecil, yaitu hanya sekitar 3 – 4 mm, yang warnanya coklat kehitaman.
Hama ini juga memiliki sayap yang memungkinkan mereka terbang dan menyebar dengan mudah.
Wereng coklat muda atau nimfa berwarna putih atau krem dan berubah menjadi coklat seiring bertambahnya usia.
Siklus hidup hama ini berawal saat telur pada bagian bawah daun atau batang tanaman, akan menetas dalam waktu 6 – 9 hari.
Jika sudah menetas, tahap selanjutnya adalah nimfa yang mengalami lima instar sebelum mencapai tahap dewasa. Pada tahap ini, mereka mulai menghisap getah dari tanaman padi.
Wereng coklat dewasa dapat hidup sekitar 2 – 3 minggu, selama itu mereka terus menghisap getah dan bertelur kembali.
Dampak serangan hama ini adalah, mereka dapat menghisap getah dari batang serta daun padi, yang mengakibatkan daun kering, mati serta menguning.
Serangan parah dapat menyebabkan kondisi yang terkenal sebagai hopperburn, yang mana seluruh tanaman padi akan mengering dan mati.
Serangan wereng coklat yang tidak terkontrol dapat mengakibatkan penurunan hasil panen secara signifikan, yang berdampak terhadap kerugian ekonomi untuk petani.
Untuk mengendalikan hama wereng coklat, petani bisa memakai varietas tanaman yang tahan hama, menggunakan musuh alami hama ini.
Mengawasi hama ini secara rutin, mengelola pengairan dengan tepat, serta aplikasi insektisida dengan dosis dan cara aplikasi yang tepat.
Kutu Putih
Kutu putih adalah salah satu hama serangga yang dapat menjadi ancaman bagi tanaman pertanian serta hortikultura.
Mereka terkenal karena kemampuannya untuk merusak berbagai tanaman dengan menghisap getahnya, yang menyebabkan tanaman lemah dan bahkan mati jika serangannya parah.
Jenis hama ini yang dapat menyerang tanaman, seperti kutu putih (Bemisia Tabaci), kutu putih jeruk (Planococcus Citri) serta kutu putih tepung (Pseudococcidae).
Siklus hidup hama ini berawal saat telur yang terletak pada bagian bawah daun atau beberapa cabang tanaman yang berwarna kuning atau putih.
Setelah menetas, nimfa berwarna kuning atau putih dan mulai menghisap getah tanaman. Nimfa ini melewati beberapa instar sebelum menjadi dewasa.
Pada beberapa jenis, terdapat tahap pupa sebelum berubah menjadi dewasa.
Kutu putih dewasa berukuran kecil, berbentuk oval, dan biasanya berwarna putih dengan lapisan lilin pada bagian tubuhnya. Mereka dapat bertelur lagi dan memulai siklus hidup baru.
Hama kutu putih bisa menghisap getah tanaman, yang menyebabkan daun menguning, layu, dan akhirnya rontok. Dalam serangan yang parah akan mengakibatkan kematian tanaman.
Kutu putih mengeluarkan cairan lengket bernama embun madu, yang menyebabkan pertumbuhan jamur hitam (kapang jelaga) pada daun.
Hal tersebut dapat mengurangi proses fotosintesis dari tanaman budidaya serta mampu merusak penampilan tanaman.
Untuk mengendalikan hama kutu putih, petani bisa memakai musuh alami hama ini, memakai perangkap lengket.
Merotasi tanaman dengan rutin, menjaga kebersihan lahan pertanian serta aplikasi insektisida dengan dosis dan cara pemakaian yang sesuai.
Baca Juga : Cara Pemakaian Furadan Dalam Menumpas Hama Berbahaya


Leave A Comment